ADALAH BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI LEBIH PENTING MENJADI ORANG BAIK

Monday, June 4, 2007

HARI INI SENIN 4 JUNI 2007

Mengenang hari senin 4 juni 2001
Seribu kota telah kulalui
Seribu hati kutanyai
Namun semua tiada yang mengerti
Dimana kau kini
..............................
..............................
Ini cerita bermula ketika lulus sekolah tahun 99. Saat itu sebenarnya aku jatuh cinta pada seorang wanita, sebut aja namanya T.
Setelah kami berpisah aku merantau ke tangerang. Ada sebuah do'a yang selalu aku ucapkan pada Tuhan. Tuhan lupakan dia dari ingatanku. Aku selalu berdoa itu karena aku tidak akan pernah bisa memiliki dia. Karena dia udah ada yang punya. Aku terlambat mengungkapkan perasaan ini padanya katanya. Tapi Setelah beberapa bulan kami berpisah aku tetap tidak dapat melupakan dia.
Akhirnya aku mengganti doaku menjadi Tuhan pertemukan aku dengannya. Aku berusaha mencari dia untuk tahu dimana dia kini. Tetapi semua teman-teman laki dan perempuan dia yang aku jumpai tidak ada satupun yang tau gimana kabar dia. Aku berusaha mencarinya ke kampung tampat tinggalnya yang dulu, tetapi aku tidak juga menemukannnya.
Suatu waktu saat ku jalan-jalan bersama seorang wanita, tanpa sengaja aku berpapasan dengannya. Ya Tuhan Kau kabulkan doaku. Tapi sayang aku berjalan bersama seorang teman wanitaku. Saat itu tanggal 1 januari 2001. Tetapi dia memberi untukku sebuah alamat untuk kami dapat berkomunikasi. Ternyata dia tinggal di malang.
Aku mulai mengirim surat untuknya dengan mencatumkan nama asliku, dan alamat asliku tinggal. Suratku yang pertama dapat balasan dari dia. Tetapi dia meminta padaku kalau kirim surat untuk memakai nama samaran (nama wanita). Ternyata suratku yang pertama telah membuatnya dimarahi oleh keluarganya. Lalu aku mengirim surat yang ke dua dengan menggunakan nama wanita, tetapi kali ini suratku tidak dapat balasan. Lalu aku kirim surat yang ke tiga tetapi tidak ada balasan juga. Ternyata walau aku telah memakai nama wanita dalam alamat pengirim tetap saja kena sensor keluarganya. Sehingga dia tak dapat membaca suratku. Padahal alamtnyapun aku rubah. Akupun mengirim di kantor pos dimana alamat aku cantumkan. Alamat di bekasi aku poskan surat itu di bekasi. Alamat cikarang aku poskan surat itu di cikarang. Tetapi sayang tetap kena sensor. Ternyata aku lupa tulisan tanganku dialamat tetap sama saat aku menulis alamat asliku.
Lalu hari sabtu 2 juni 2001, aku mencoba untuk mendatanginya di kota malang. Aku menggunakan jasa kereta api gajayana. Aku sampai disana hari minggu 3 juni keesokan harinya. Ternyata tidak terlalu sulit menemukan alamat tempat tinggalnya. Karena begitu kutanya orang di dekat stasiun tempat aku turun dari kereta, langsung bisa memberi tahu tempatnya.
Karena waktu masih terlalu pagi, aku jalan ke alun-alun kota malang terlebih dahulu.
Jam 10.00 pagi aku mencoba menuju tempat tinggalnya. Tidak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit dari alun-alun kota malang dengan menggunakan jasa angkot. Lalu aku turun dan langsung mencari alamat yang pernah dia beri. Aku sampai di depan rumahnya. Aku berdiri sejenak di depan pintu gerbang. Suasana sepi, lalu aku membuka pintu gerbang dan masuk ke halaman rumahnya. Lalu aku ucapkan salam. Keluar seorang anak kecil sambil membukakan pintu. Lalu aku bertanya "apakah T ada?". Sebelum dia menjawab bapaknya keluar. Sebelum mulutku sempat berbicara, dengan nada yang sangat tinggi dia bertanya kepadaku "mau cari siapa?" Tinggi sekali nadanya. Aku kaget, sehingga tak langsung menjawab. Lalu dia bertanya dengan nada yang lebih tinggi lagi "mau cari siapa?". Aku jawab "ingin bertemu T". Lalu dia bilang "orangnya tidak ada" dengan nada yang masih sangat tinggi. Lalu aku berpamitan dan spontan langsung balik kanan. Sebelum aku melewati pintu gerbang, dia bertanya dengan nada masih tinggi "dari mana?". Spontan aku jawab dari waru (sidoarjo-surabaya). Aku takut kalau aku bilang dari tangerang dia semakin marah padaku.
Aku pergi meninggalkan rumahnya, tanpa bisa bertemu dengan orang yang kumaksud. Aku tak menyangka keluaganya semarah itu ketika aku datang. Sungguh suatu peristiwa yang tak terbayangkan saat ku berangkat dari tangerang. Walau aku tahu suratku selalu di jegal oleh keluarganya. Minimal yang aku pikirkan setelah peristiwa itu, aku akan ditolak, tetapi dengan nada yang tidak setinggi itu. Sedikit senyum atau minta maaf karena menolak aku atau ucapan yang lebih sopan lainnya. Tetapi kejadiannya seperti itu.
Aku kembali ke alun-alun malang. Lalu aku mencoba berjalan kaki dari ramayana sampai gajayana. Aku berpikir siapa tahu aku akan melihatnya. tetapi aku tak menemukannya. Lalu aku naik angkot menuju terminal gadang. Aku duduk didepan siapa tahu dapat melihatnya. Aku tidak menemukannya. Lalu aku ke arjosari duduk didepan lagi. Tetapi tak melihat dia juga. Lalu aku memutuskan pulang dengan naik bus. Sepanjang jalan arjosari sampai singosari ku pandang keluar siapa tahu aku meihat dia. Aku tak melihat dia sampai bis berhenti di bungurasih surabaya.
Sampai di surabaya aku ganti bus untuk meneruskan perjalanan pulang. Aku termenung didalam bus memikirkan apa yang tadi siang terjadi. Aku sampai ditempat tinggalku keesokan harinya, senin 4 juni 2001.
Aku sampai di rumah dengan segudang kekecewaan. Tapi manusia hanya bisa berusaha Tuhan yang menentukan. Aku telah berusaha, tetapi Tuhan berkehendak lain. Setelah kejadian itu, aku kirim surat untuk dia sebanyak mungkin. dengan harapan ada satu yang lulus sensor. Dan memang ada yang lulus sensor. Lalu aku mencoba kirim surat dia dengan menggunakan alamat tetangganya. Dan itu juga berhasil. Karena tetangganya mau memberikan langsung padanya.
Sampai akhirnya aku kelelahan berjuang dan tidak menulis surat lagi untuknya. Lalu dia kirim surat yang isinya dia bertanya" kenapa tidak kirim surat ke aku lagi, bukankah kamu janji tidak akan melupakan aku, apakah kamu sudah punya pacar?". Lalu aku kirim balasan yang intinya"Aku sudah punya pacar". Itu menjadi surat terakhirku dan juga dari dia, karena setelah itu dia tak kirim surat lagi untukku.
Sampai sekarang aku tak tahu lagi kabarnya. Aku mencoba tanya ke teman-temannya, tapi tidak ada yang tahu. Sampai hari ini senin 4 juni 2007 aku tidak tahu lagi kabarnya.
Tangerang-malang telah menjadi kenangan, yang sulit untuk ku lupakan. Aku selalu berusaha melupakannya, tapi tak pernah bisa.
Hari senin 4 juni 2001, aku selalu ingat peristiwa itu. Ketika aku pulang dengan sebuah kekecewaan. Aku yakin Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hambaNya.

2 comments:

Edwin Sungkono said...

dalam masalah asmara, saya punya prinsip, seberapapun besarnya cinta kita kepada seseorang, tapi bila dia sudah menikah..... sebaiknya lupakanlah…..
atau dgn istilah kasarnya, jangan sekali-kali mengganggu istri/suami orang.....
pernikahan itu adalah suatu hal yg sakral & merupakan rahmat/berkah dari yg di Atas, jadi sudah sepantasnya kita menghormati hal tsb.

Tapi ngomong2 si T masih single or udah married ?..... kalo masih single, kejar terus !!!..... but kalo udah married, lupakan n doakan mereka supaya bahagia.....

yours,
edwin sungkono

amar said...

amar menjawab
sebenarnya saya dan dia saat itu masih single.
sekarang aku juga selalu berdoa semoga dia bahagia.