ADALAH BAIK MENJADI ORANG PENTING, TAPI LEBIH PENTING MENJADI ORANG BAIK

Monday, July 2, 2007

TITIK TENGAHNYA ITULAH MANUSIA

Pada bagian yang lalu, walau sedikit, saya pernah menyinggung pemikiran Alfred North Whitehead tentang titik. Tulisan ini adalah untuk meneruskan keterangan dari tulisan sebelumnya. Bila anda lupa tulisan yang lalu atau belum membacanya silahkan baca disini.

Jika masih ingat atau ingin mengabaikan, mari kita teruskan.
Alfred North Whitehead berkata, bahwa 2000 tahun yang akan datang, kehidupan manusia akan dipengaruhi oleh ilmu pasti.

Saya mencoba untuk memahami pemikiran Alfred NW tentang Tuhan. Dia menjelaskan tentang Tuhan dari yang hanya sekedar mistik menjadi lebih rasional.

Dalam kehidupan ini menurut Alfred, ada dua kutub yang saling berhubungan antara yang satu dan yang lainnya. Yaitu kutub nilai dan kutub fakta.

Kutub nilai adalah sesuatu yang selalu aktual tetapi tidak mengalami pemudaran dan tidak mengalami masa lampau. Dia sifatnya abadi.

Sedangkan kutub fakta adalah sesuatu yang mengalami aktual dan mengalami pemudaran. Dia sifatnya tidak abadi, berarti dia mengalami masa lampau.


Disinilah yang oleh Alfred NW sebagai becoming and perishing (menjadi dan memudar).

Kutub nilai antara lain indah, benar, baik dan lain-lain. Dialah yang selalu aktual dan tidak akan memudar sampai kapanpun. Nilai berada dalam batin.

Sedangkan segala yang tergelar didunia ini adalah fakta (lahir). Karena sifatnya yang lahir itulah dia mengalami aktual dan pemudaran. Kita mengambil contoh type-type merk sepeda motor, misalnya honda. Pada jamannya Astrea 800 adalah merk yang aktual dan indah. Tetapi setelah dibuatnya astrea prima, astrea 800 menjadi sesuatu yang lampau dan tidak lagi aktual. Demikian pula setelah astrea grand keluar, maka astrea prima menjadi barang yang lampau dan memudar. Mungkin saat jamannya astrea grand adalah barang dengan desain yang indah dan sempurna, tetapi tidak setelah ada astrea supra. Begitulah seterusnya.

Kita kembali ke kutub nilai dan fakta. Atau biar lebih mudah dalam pengucapan kita kembali ke lahir dan batin.
Karena sifat nilai yang kekal dan abadi itulah maka pada hakekatnya manusia membutuhkan. Dan karena butuh maka manusia menyebutnya sebagai Tuhan. Coba kita sebut nama Tuhan dalam hati (maha benar, maha indah ...).

Jika lahir dan batin dihubungkan maka akan terdapat sebuah garis. Dan disitulah sebuah titik berada. Dan manusia menjadi titik tengahnya. Sebagai titik yang berada di tengah maka manusia bisa memilih akan ke mana arah tuju hidupnya.

Misalnya sebagai contoh, Antara banyuwangi (jawa timur/anggaplah lahir)-merak(Banten/batin) adalah sebuah garis, kita anggap yogyakarta adalah tengahnya. Dan diyogyalah terdapat titik itu berada.
Jika manusia memilih untuk berjalan ke arah merak(batin), maka sesungguhnya dia menuju ke sesuatu yang abadi yaitu Tuhan. Dan bila dia menuju ke arah banyuwangi (lahir) maka dia menuju ke arah yang materialistik. Semakin dia dekat dengan banyuwangi (lahir) maka dia semakin jauh dari Tuhan. Sampai dia sangat dekat dan sampai banyuwangi (lahir) dia semakin jauh dari Tuhan dan semakin tidak mengenal Tuhan. Dan dari sinilah atheis bermula.

Atheis bermula dari materialisme. (Alfred North Whitehead)

Jadi pergerakan kita ke arah lahir, adalah pergerakan kita menjauhi Tuhan. Dan semakin kita tidak mengenal Tuhan. Dan bila yang kita pilih adalah ke arah Tuhan, agamalah yang lebih dalam mengajarkan tentang nilai-nilai (Tuhan).

Pergerakan kita menjauhi Tuhan akan membuat kemurkaan Tuhan. Tentang salah satu pergerkan menjauhi Tuhan, juga pernah di tulis di blog ini. Jika sudah lupa atau belum membaca silahkan klik disini.


Untuk melengkapi tulisan ini, saya ingin mengutip epilognya Prof. Dr. Damardjati Supadjar sebagai berikut:
Kalau seseorang awam yang membuat pernyataan mengenai tembok rumahnya, maka pada umumnya pernytaanya semata-mata lahiriah, misalnya bahwa tembok putih. Sementara sang pemborong akan membuat pernyataan yang lebih "batini", misalnya "tembok itu anti gempa" Atas dasar keilmuwannya yang memahami penuh konstruksi kedalaman si tembok. Namun insinyur pengendali project memiliki "sesuatu" yang lebih "batini", yakni semacam "kekuasaan" menetapkan bahwa suatu gedung yang anti gempa, bisa jadi tidak anti project dan karenanya bisa runtuh oleh suatu project. Demikianlah maka Tuhan itu maha batin, menguasai segala, mengendalikan semua saja. (Dr. Damardjati Supadjar).

Setelah mempelajari pemikiran beliau-beliau, jadi mau kemana arah tuju hidup ini. Sangkan paraning dumadi ( asal dan arah tuju kehidupan adalah Tuhan ). Begitulah orang jawa bilang.

Demikian, semoga bisa menjadi perenungan bagi semua.
Wallahu a'lam.







1 comment:

Aura Rosena said...

Wah, tulisannya terlihat berbobot sekali. Saya krg begitu memahaminya. Maklum saya amsih anak sekolah. Tapi, apakah yang dimaksud adalah bahwa hubungan antara duniawi dan akhirat harus seimbang?